Memaafkan itu adalah sifat orang yang beruntung

Seringkali diantara kita merasa boleh berkata kasar pada yang lainnya, mencela dan memaki tanpa henti, mengolok-olok dan mencaci. Hanya karena kita merasa sudah didzalimi.

Membalas yang sepadan, kalau bisa lebih menyakitkan. Bukankah itu idenya?

Padahal Allah telah ingatkan kita dalam Al-Qur’an dengan sebuah nasihat yang berlaku hingga akhir zaman

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang diantaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (TQS Fushilat [41]: 34-35)

Tidak akan selesai dengan kebaikan orang-orang yang membalas kejahatan dengan sepadan atau dengan yang lebih menyakitkan. Jelas itu bukan cara Islam.

Membalas perlakuan serupa hanya menempatkan diri kita dalam tingkatan yang sama rendahnya, bukan amal yang luhur sebagaimana digariskan Islam, dan dicontohkan Rasulullah saw. Membalas perlakuan lebih menyakitkan tidak akan memberikan sebuah penyadaran, bahkan justru membuat mudharat yang lebih besar lagi.

Walau kita disakiti dan didzalimi oleh saudara seiman, hak saudara kita tetap lisan yang baik dan amal yang indah dari kita. Tiada terkotori oleh rasa dendam dan rasa ingin membalas. Wangi perbuatan inilah yang diajarkan oleh Nabi saw pada ummatnya.

Amal perbuatan diperlihatkan (dihadapan Allah) setiap hari senin dan kamis, kemudian pada hari itu Allah Azza wa Jalla mengampuni dosa setiap orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kecuali orang yang terdapat diantara dia dan saudaranya sebuah permusuhan, Allah berfirman: "Tangguhkanlah dari kedua orang ini hingga keduanya berdamai" (HR Muslim)

Seseorang mencela Imam As Sya’bi, lalu As Sya’bi mejawab: "Bilamana engkau berbohong, semoga Allah mengampunimu, namun bila engkau benar, semoga Allah mengampuniku"

Tidak sulit "menolak kejahatan dengan cara yang lebih baik". Karena sesungguhnya syaitan bersemayam dalam tindakan kasar kepada sesama, dan lisan buruk yang terucap dari lisan. Tanpa kita sadari amal kita dibakar habis api hasud dan meninggalkan debu yang kelak disapu angin waktu. Atau lebih parah lagi amal kita sudah disita ghibah dan kata-kata kasar, meninggalkan kita dengan hutang dosa yang kelak dibayar dengan menindihkan diri atas dosa orang lain. Tiada guna balas membalas dalam keburukan. Tiada manfaat balas membalas bahkan dengan yang lebih buruk.

Jadilah pemaaf. Jadilah orang yang bertanggung jawab atas diri kita. Bukan pelaknat dan karenanya kita dicatat sebagai yang terlaknat.

Patut dicatat, pada saat Perang Uhud, kaum Muslim banyak yang gugur, bahkan wajah Rasulullah terluka tersayat pedang. Darah bercucuran dan satu gigi beliau tanggal terkena tombak musuh. Pada saat itu, ada sebagian sahabat yang berkata,

"Ya Rasulullah, berdoalah untuk kebinasaan orang-orang musyrik."

Dengan suara lirih menahan rasa sakit, beliau menjawab, 

"Tidak, aku bukan tukang laknat. Sesungguhnya aku diutus sebagai pembawa rahmat" (HR Muslim)

Biarlah orang lain bertindak dzalim, maka tugas kita menasihati bukan melaknati, memberikan keterangan bukan membalas yang sepadan, menampilkan kebaikan bukan justru menyakitkan.

Dan bila urusan 'balas-membalas keburukan' ini bisa selesai. Mudah-mudahan karena kita lantas orang-orang terinspirasi. Dari yang mulia hatinya karena mengemban Islam orang bisa mengambil tauladan. Karenanya tersebarlah Islam, dan mulialah agama.

Akal bisa diajar dengan dalil, namun hati hanya dengan akhlak bisa diambil. Bersikaplah mulia, dan mudah-mudahan Allah ganjar dengan surga.

---
Ust. @felixsiauw

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog