Novel: Love at First Sight

Hm... gw ngerasa harus menulis sesuatu di blog ini biar nggak berdebu. Berhubung malam minggu, gw mau ngebahas novel yang berjudul "Love At First Sight". Novel karangan Jennifer E. Smith dengan judul asli "Statistical Probability of Love At First Sight" ini udah menarik minat gw sejak pertama kali baca sinopsisnya.

Tentang keajaiban takdir, bahwa waktu yang singkat saja bisa mengubah hidup seseorang untuk selamanya. Hadley hanya ketinggalan 4 menit dari jadwal pemberangkatan pesawat Amerika menuju Inggris untuk menghadiri pernikahan kedua ayahnya. Akibat selisih waktu 4 menit itu Hadley harus bertemu dengan Oliver, teman perjalanan yang menyenangkan. 

Dad seorang dosen di amerika yang ditugaskan ke Inggris selama 2 bulan untuk mengajar di sana. Entah bagaimana penugasan itu melar hingga 6 bulan. Dan hanya dalam kurun waktu 6 bulan itu, Dad tak kembali!

Dad jatuh cinta lagi dan memutuskan menikahi Charlotte. Hadley belum pernah bertemu Charlotte sebelumnya, hanya saling berkirim e-mail. Jelas sekali Hadley tidak menyukainya, menjawab email hanya sepatah dua patah kata. Pernikahan itu membuat mom terluka.

Dad memiliki Hadley dan mom di Amerika, keluarga yang sempurna. Kenapa hanya dalam 6 bulan dad memutuskan untuk pergi dan memilih tinggal bersama wanita asing? Bahkan yang baru dikenalnya 6 bulan!

Hadley benci sekali harus datang ke pernikahan itu, tapi mom mendesaknya. "Suatu hari kau akan menyesal tidak ada dalam album pernikahan ayahmu sendiri," kata Mom.

Semua itu Hadley ceritakan pada Oliver. Termasuk tentang liburan terakhirnya yang menyenangkan bersama Dad di Alaska. Bahkan tentang majalah sastra kesukaan Dad dan Hadley. Dad memberikan majalah itu, tapi Hadley sama sekali belum membacanya sejak pertama kali diberikan.
Ternyata tulisan di lembar terakhir majalah itu berbunyi, "Is it better to have had a good thing and lost it, or never to have had it?" dan Dad ingin Hadley membacanya.

Lalu kenangan masa kecil Hadley kembali berputar, saat mereka bertiga - Hadly, Mom, Dad - sedang berkumpul di halaman belakang, menangkap kunang-kunang. Ada percakapan singkat antara Dad dan Hadley.

“You know what they say," Dad said. "If you love something, set it free."
"What if he doesn't come back?"
"Some things do, some things don't," he said, reaching over to tweak her nose. "I'll always come back to you anyway."
"You don't light up," Hadley pointed out, but Dad only smiled.
"I do when I'm with you.”
 
Sesampainya di Inggris dan menghadiri pernikahan ayahnya, Hadley merasa harus menemukan Oliver kembali. Hanya untuk menenangkan dirinya? Di mana Oliver saat itu? Ternyata Ayahnya Oliver baru saja meninggal. Sekali lagi takdir mempertemukan mereka berdua dengan cara yang tak terduga.

"Kau tau, kenapa selama di pesawat kau sama sekali tidak menyadari bahwa ayahku baru saja meninggal? Karena aku bersamamu. Denganmu aku merasa lebih baik."

Terkadang memang ada pertemuan singkat yang menjadi awal dari pertemuan-pertemuan selanjutnya. Love is the strangest, most illogical thing in the world.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog