Pelajaran Hidup Dari Seseorang

Sehari sebelum atasan gw meninggal, gw masih sempat menjenguknya di RS. Sebenarnya almarhum sedang rawat jalan, cuma hari itu gw hoki aja pas ketemu dia di jadwal kontrolnya. Beliau belum setengah abad ketika berpulang, isterinya pun belum berusia 40 tahun dan anaknya masih kecil.

Sehari setelah kepergiannya gw dan teman-teman mengunjungi rumahnya, yang langsung disambut raungan tangis istrinya. iya gaes, nangisnya dramatis banget. mungkin dia sedih ngeliat temen-temen suaminya datang, pake seragam, seperti seragam suaminya...

Setelah menenangkan diri, sambil sesegukan dia bercerita kebaikan suaminya, sampai detik-detik sakaratul maut. ada salah satu ceritanya yang gw inget, waktu itu si ibu masih gadis, masih jadi mahasiswa dan si bapak masih jadi ustadz muda di kampusnya. si bapak cerita pada jemaahnya, termasuk si ibu, "Dalam pernikahan ada 2 kemungkinan: cerai hidup, atau cerai mati. maka perempuan harus punya keahlian untuk melanjutkan hidup jika ditinggal oleh suami"

Iya, gw gak akan melepas pekerjaan gw (lagi).

Kadang-kadang gw suka rada kepo sih, kenapa orang seperti bapak itu jadi atasan gw? Soalnya... hhehehe.... ada yang gak bisa gw ceritain sih, tapi itu bikin gw bertanya-tanya lah. Setelah kejadian ini gw jadi mengerti bahwa ada sesuatu yang istimewa pada seseorang yang membuat dia diangkat derajatnya oleh Allah. Oh ternyata dia gak suka mengeluh, disiplin banget, istiqomah (punya komitmen tinggi), selalu menuntut ilmu... iyalah gw apasih remah-remah ciki. Padahal belakangan ini gw mulai meneladani beliau sih, etapi orangnya keburu dipanggil Allah T__T

Iya, gw akan selalu berusaha berbuat baik ke orang lain seakan-akan itu pertemuan terakhir dengannya.

Setelah takziyah, gw pun ikutan ngobrol sama temen-temen...
katanya dalam pernikahan itu, lebih baik suaminya yang meninggal duluan. Soalnya kalo isterinya duluan, anak bisa gak keurus dan suaminya nikah lagi. Ibaratnya mata kanan ngeluarin air mata, mata kirinya ngelirik perempuan laen. hhihi...

Dan jika kita mencintai atau membenci seseorang, sekedarnya saja. Melihat kondisi ibu itu, mungkin cintanya kepada suaminya besar banget sampai bisa "seperti itu" di depan rekan kerja bapak. Semoga kalian bisa ketemu lagi dan bersatu di surga nanti. Aamiin...

Prakteknya sulit untuk mencintai seseorang sekedarnya T_T

Ada juga temen medsos gw yang suaminya meninggal dan.. menurut gw lebay aja sih, memamerkan duka di medsos sampe sebegitunya. pamer cerita romantis selama pernikahan mereka. padahal dalam pernikahan itu pasti ada setan yang berusaha memisahkan keduanya, tapi gak diumbar aja. hhehe... maksud gw, kenapa sih harus diumbar? bikin gw baper kan... hahaha... jujur sih, gw jadi membandingkan kondisi gw dengan dia. lho kok enak ya punya suami yang begini begitu, suami gw kayak begini... dst.. dst... belom lagi temen gw yang jomblo langsung curhat, katanya gak menjaga perasaan orang lain yang sedang menyendiri. hhihi....

well, banyak perasaan orang yang harus dijaga karena emang kondisinya gak sama kayak kita. bisa jadi yang menurut kita biasa, bagi orang lain itu spektakuler.

permasalahan hidup yang dihadapi orang yang makin banyak bertambah umurnya: ditinggal mati orang yang dicintai. entah itu orang tua, sahabat, pasangan, bahkan anak... maka pembicaraan beralih jadi ke "pentingnya asuransi kesehatan".




0 comments:

Post a Comment

Search This Blog